RINCIH.COM. Sebuah laporan riset yang menarik terkait format retail yang dikeluarkan oleh DHBW Heilbronn, perguruan tinggi di Jerman dengan tema “50 years of Aldi USA” – the Evolution of the Discount Format”,
Berikut pelajaran yang bisa diambil dari laporan tersebut:
1. Discounter model fokus pada konsistensi eksekusi dalam 4 area: struktur organisasi yang cost oriented, highly limited assortment, fokus yang kuat di private label dan supply chains serta procurement yang effisien.
2. Lingkungan bisnis selalu berubah, retailer tidak boleh berada pada idle position, status quo karena puas diri atau lebih parah kebingungan akan ke arah mana perubahan harus dinakhodai.
Aldi USA selalu mengupgrade model bisnisnya untuk merespon perubahan di pasar. Perubahan-perubahan kunci yang dilakukan Aldi terutama dalam ekspansi fresh products, modernisasi toko, dan memperkuat branding dari private label.
3. Store business development mempertimbangkan low cost market entry, clear market positioning dan continues development & strenght of private label.
4. Implement micromerchandising: selalu melakukan adjustment sesuai preferensi pelanggan lokal. Strategi ini bisa menimbulkan dilema dengan strategi effisiensi operasional Aldi yang dinamakan Single SKU Scale.
5. Judgment dan smart decision management dibutuhkan di area ini. Selama manajemen memiliki fondasi philosophi operasional dan orientasi pelanggan yang kuat, hal ini bukan masalah.
Pertumbuhan format retail mengikuti Life cycle of Retail Institutions (Intro-Growth-Mature-Decline). Retail format akan mengalami fase decline jika tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan core pelanggannya.
6. Ada 4 key policy yang menjamin Aldi bisa tetap effisien: single SKU scale, Obsesi pada kualitas, LEAN supply chains dan Negative working capital.
Luas toko Aldi sekitar 1000 m2. Total assortment 1500-1600 SKU. Dimana 70-90%-nya private label. Dengan inventory turnover 14 hari dan TOP ke supplier 30-35 hari. Berhasil memiliki TOP 60-90 hari bukan prestasi jika harga, service level dan kualitas dikorbankan.
On top of uraian di atas, namun tidak boleh melupakan key ingredient sukses di bisnis retail yaitu positif cash flow harus dilengkapi oleh motivasi dan kompetensi the man behind the gun-nya. (NcangSepti, Sofyan Muharam)

