RINCIH.COM. Menurut survei global terbaru DHL eCommerce, sekitar 40% pembeli online di seluruh Asia-Pasifik sudah menggunakan alat berbasis artificial intelligence (AI) seperti chatbot dan asisten virtual untuk layanan pelanggan dan rekomendasi produk.
Survei yang mencakup Australia, Tiongkok, India, Malaysia, dan Thailand ini menemukan bahwa 37% pembeli lainnya berencana untuk menggunakan AI di masa mendatang, menunjukkan meningkatnya permintaan akan pengalaman belanja online yang lebih personal.
Bisnis juga dengan cepat mengadopsi AI, dengan 80% melaporkan bahwa mereka sudah menggunakan teknologi ini di seluruh platform e-commerce mereka. Aplikasi yang paling umum adalah rekomendasi produk yang dipersonalisasi dan ulasan produk atau perbandingan gambar.
Perusahaan memperkirakan penggunaan AI akan meningkat lebih lanjut dalam lima tahun ke depan, terutama dalam peramalan permintaan, uji coba virtual, dan deteksi penipuan.
Top of Form
Bottom of Form
Terlepas dari meningkatnya adopsi, survei menemukan bahwa kepercayaan tetap menjadi tantangan utama. Kekhawatiran tentang privasi disebutkan oleh 62% pembeli, sementara 50% mempertanyakan keakuratan rekomendasi yang dihasilkan AI. Dunia usaha juga mengungkapkan kekhawatiran serupa terkait adopsi AI.
Survei tersebut juga menemukan peningkatan permintaan untuk belanja berbasis langganan. Sebagian besar responden sudah memiliki setidaknya satu langganan produk, dengan 35% memiliki tiga langganan atau lebih.
Minat terhadap layanan berlangganan logistik juga meningkat. Program pengiriman dan pengembalian barang sudah digunakan oleh 61% pembeli di Australia, 52% di India, 47% di Malaysia, 42% di Thailand, dan 32% di Tiongkok. Setengah dari responden mengatakan mereka akan mempertimbangkan untuk berlangganan layanan tersebut dalam lima tahun ke depan.
Di antara berbagai bisnis, 71% sudah menawarkan layanan pengiriman dan pengembalian berbasis langganan, sementara 21% berencana untuk memperkenalkannya dalam lima tahun ke depan.
Survei tersebut juga menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan dalam pembayaran digital. Kartu kredit dan debit serta dompet digital tetap menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan, sementara Beli Sekarang, Bayar Nanti (Buy Now Pay Later/BNPL), mata uang kripto, dan otentikasi biometrik semakin populer, terutama di Tiongkok, India, Malaysia, dan Thailand.
“Seiring dengan terus berkembangnya gaya hidup digital di seluruh Asia Pasifik, inovasi dalam e-commerce akan semakin cepat dengan cara yang belum dapat kita prediksi sepenuhnya saat ini,” kata Pablo Ciano, CEO DHL eCommerce, mengutip retailasia.com, Kamis (23/7/2026). “Yang jelas adalah ekspektasi konsumen akan terus meningkat.”
“Pengalaman yang lancar, intuitif, dan personal tetap menjadi hal mendasar untuk menarik pelanggan,” tambahnya. “Namun, peluang sebenarnya terletak pada menjembatani kesenjangan apa pun, terutama seputar kepercayaan, kenyamanan, dan pilihan untuk loyalitas jangka panjang.” (NcangSepti)

