RINCIH.COM-JAKARTA. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menyebut Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tak akan kalah bersaing dengan ritel moderen seperti Alfamart dan Indomaret. KDMP dipandang punya kemampuan yang cukup.
“Jadi saya tidak usah khawatir, kooperasi tidak usah khawatir. Kalau bersaing dengan apa tadi, yang mart-mart itu, kooperasi saya tidak khawatir asal ini bisa kita jalankan dengan baik,” kata Zulkifli di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, dikutip Kamis (12/3/2026).
Zulkifli menyampaikan, KDMP akan menjadi lebih unggul dengan dipimpin oleh manajer koperasi yang menguasai entrepreneur. Harapannya proses bisnis yang dijalankan bisa maksimal.
“Jadi kita harap kooperasi ini akan jauh lebih unggul, karena nanti kooperasi ini menjalankan juga sebagai infrastruktur pemerintah. Nanti seperti subsidi, barang-barang subsidi itu melalui koperasi,” ujar dia.
KDMP juga akan ditugaskan menjadi offtaker hasil panen petani beras maupun jagung. Lalu, disalurkan ke Perum Bulog untuk dikelola.
“Bantuan-bantuan juga nanti akan melalui kooperasi. Seperti bantuan beras dan lain-lainnya, otomatis kooperasi akan mendapat biaya operasional. Di situ juga kooperasi akan dilengkapi oleh cold Storage, kemudian juga agen sembako, LPG, ada kliniknya,” tutur Zulkifli.
Sebelumnya, Menteri Koperasi, Ferry Juliantono turut menanggapi isu pembatasan ekspansi toko ritel moderen ke desa-desa setelah aktifnya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Nyatanya, Ferry masih membuka ruang kerja sama.
Dia menjelaskan, mengenai pendirian toko ritel moderen seperti Alfamart dan Indomaret sebetulnya kembali merujuk pada peraturan daerah masing-masing.
“Sebenarnya begini, itu tinggal pengaturan regulasinya di masing-masing daerah,” ujar Ferry, ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Bisa Kerja Sama
Dia mengatakan, telah menjalin komunikasi dengan pihak Indomaret maupun Alfamart. Dia memastikan KDMP tetap terbuka terhadap kerja sama di sektor perdagangan ritel.
Dia tak muluk-muluk. Tidak sepenuhnya produk kebutuhan masyarakat merupakan produksi UMKM lokal. Maka, kehadiran produk perusahaan swasta masih memiliki ruang konsumsi masyarakat.
“Sebenarnya Koperasi Desa ini bisa tetap bekerjasama dengan siapapun, karena kan tidak semua produk-produk itu bisa diproduksi oleh UMKM lokal. Tapi ada juga yang tidak bisa diproduk oleh pelaku UMKM lokal itu. Tentu kita akan bisa bekerjasama dari produksi barang-barang yang sudah diproduksi oleh teman-teman dari swasta,” jelas dia. (NcangSepti, Liputan6.com)

