Peresmian pengurus DPP Aprindo 2024-2028. Foto: antara/ azmi samsul maarif

RINCIH.COM-INDONESIA. Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menegaskan bahwa ritel modern selama ini selalu berada di garis depan ketika pemerintah menetapkan kebijakan harga. 

“Bahkan dalam kondisi mendadak sekalipun, pelaku usaha dituntut bergerak cepat,”katanya ujarnya dalam peluncuran Friday Mubarak di Kuningan City, Jumat (13/2/2026).

Solihin menjelaskan, pengalaman saat penetapan harga eceran tertinggi minyak goreng yang diputuskan menjelang sahur, namun keesokan paginya harga sudah diterapkan di hampir seluruh jaringan ritel anggota asosiasi.

“Ritel sangat taat terhadap harga acuan maupun harga eceran tertinggi. Walaupun di beberapa tempat seperti Papua ada perbedaan waktu, kami tetap berupaya menyesuaikan,” katanya.

Solihin mengakui terdapat tantangan ketika harga beli dari pemasok justru lebih tinggi dibanding harga acuan pemerintah. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam pengawasan di lapangan, apalagi ketika meningkatnya kebutuhan pokok menjelang Ramadan.

“Contoh daging dan cabai, harga belinya di atas harga acuan. Mohon arahan dari pemerintah, karena kalau Satgas turun dan menjadikan itu tolok ukur, peritel bisa kena teguran,” jelasnya.

Di sisi lain, peritel tetap dituntut menjaga harga agar tidak memberatkan konsumen. Keseimbangan antara kepatuhan regulasi dan realitas pasar menjadi ujian tersendiri.

Solihin mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional sangat bergantung pada konsumsi domestik, terutama pada kuartal pertama setiap tahun. Momentum Ramadan dan Idulfitri selalu menjadi periode penjualan tertinggi. (NcangSepti/cnbc)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *