RINCIH.COM. Mundurnya Daud Joseph dari kursi Direktur Utama PT Pos Indonesia setelah sekitar 3 bulan menjabat bikin banyak orang bertanya-tanya. Padahal, beliau bukan orang baru di dunia operasional dan transportasi. Pengalamannya di Astra, TransJakarta, hingga Triputra Agro menunjukkan rekam jejak yang kuat.

Menurut penjelasan yang disampaikan Danantara, keputusan mundur diambil setelah proses due diligence menemukan persoalan yang membutuhkan perombakan menyeluruh, sehingga dibutuhkan kepemimpinan dengan kompetensi yang sangat spesifik untuk menangani kondisi tersebut.

Lalu, apakah kondisi PT Pos separah itu?

Medhi Cahyono, Konsultan Rantai Pasok mengatakan, belum tentu berarti perusahaan sudah “tidak bisa diselamatkan”. “Yang lebih mungkin adalah masalahnya sudah menumpuk selama bertahun-tahun sehingga tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengganti satu orang direksi,” katanya, Sabtu (25/7/2026).

Menurutnya, beberapa tantangan yang dihadapi PT Pos antara lain: Bisnis surat terus menurun karena masyarakat beralih ke email, chat, dan layanan digital.

Persaingan logistik makin brutal. J&T, SPX, Ninja Xpress, AnterAja, dan pemain lain lahir dengan model bisnis yang lebih ramping dan digital.

Beban jaringan nasional. PT Pos memiliki ribuan titik layanan hingga pelosok Indonesia. Ini adalah aset besar, tetapi juga membutuhkan biaya operasional yang tinggi.

“Jika berbagai laporan mengenai persoalan tata kelola, arus kas, dan dugaan fraud terbukti melalui proses hukum maupun audit, maka fokus direksi bukan lagi sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi melakukan restrukturisasi fundamental,” jelasnya.

Lanjutnya, inilah yang mungkin menjelaskan mengapa seorang profesional pun memilih mundur. “Bukan karena tidak mampu, tetapi karena menyadari bahwa mandat yang dihadapi membutuhkan perubahan sistemik, dukungan penuh pemegang saham, dan waktu bertahun-tahun,” lanjutnya.

Insight buat Indonesia. Menurutnya, sebenarnya sudah punya contoh sukses. Deutsche Post berubah menjadi DHL Group, Singapore Post bertransformasi menjadi pemain e-commerce logistics, sementara Japan Post, Swiss Post, dan La Poste berhasil mendiversifikasi bisnisnya ke logistik, layanan digital, hingga keuangan.

Mereka punya satu kesamaan: Berhenti bergantung pada bisnis surat. Berinvestasi besar di teknologi. Masuk ke supply chain end-to-end. Menjadikan jaringan kantor pos sebagai keunggulan kompetitif.

Medhi menjelaskan, PT Pos Indonesia sebenarnya juga punya modal luar biasa, seperti memiliki ribuan titik layanan. Jangkauan hingga daerah 3T. Brand yang dipercaya puluhan tahun.

“Kalau transformasi dilakukan secara konsisten dengan tata kelola yang kuat, PT Pos masih punya peluang menjadi national logistics integrator, bukan sekadar perusahaan pengantar surat dan paket.” (NcangSepti)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *