RINCIH.COM. Tesla dan BYD memiliki CEO, bendara sendiri, namun sama dalam industri, yakni mobil listrik. Ini bukan sekadar Tesla vs BYD. Ini dua filosofi bisnis yang bertolak belakang-dan keduanya sama-sama menang.
TESLA: MAIN DI MARGIN
Market cap sekitar $1,47 triliun. Revenue $97,8 miliar. Net profit $15 miliar. Penjualan EV 1,79 juta unit. Tesla tidak mengejar semua pasar. Mereka bermain di brand premium, software margin, dan cerita masa depan: robotaxi, energy, dan Al. Investor tidak sekadar membeli mobil hari ini. Mereka membeli visi 10 tahun ke depan.
BYD: MAIN DI VOLUME
Revenue $107 miliar. Penjualan EV 4,27 juta unit. Hadir di lebih dari 70 negara. Namun net profit sekitar $5 miliar dan valuasinya jauh di bawah Tesla. BYD tidak menjual cerita futuristik. Mereka menjual harga, jangkauan, dan kecepatan ekspansi. Tesla menang di valuasi.
BYD menang di skala.
Kenapa dua-duanya bisa menang? Bukan karena produknya. Yang membedakan adalah siapa yang mereka pitching dan cerita apa yang mereka pilih. Elon Musk tidak pitching mobil termurah. la pitching masa depan energi dan robot kepada investor yang rela menunggu bertahun-tahun.
Wang Chuanfu tidak pitching brand paling keren. la pitching harga, kecepatan, dan jangkauan kepada pasar yang membutuhkan solusi sekarang.
Produk bisa sama bagusnya. Tapi audiens berbeda. Cerita berbeda. Hasilnya pun berbeda. Inilah kesalahan paling umum dalam pitching.
Banyak orang membuat satu deck untuk semua orang. Padahal investor, klien korporat, dan partner tidak peduli pada hal yang sama.
Kalau bisnis bagus tetapi narasinya tidak dibangun untuk audiens yang tepat, kemungkinan bisa kalah bukan karena produk-tetapi karena cerita. Elon dan Wang Chuanfu punya bertahun-tahun untuk mengasah pitch mereka. (NcangSepti, Saiful Islam)

