RINCIH.COM. Walmart melaporkan pertumbuhan penjualan paling lambat dalam enam tahun terakhir. Bahkan, saham raksasa ritel itu turun lebih dari 9% kemarin.
Sementara, pertumbuhan penjualan di toko yang sama (same-store sales) Walmart pada kuartal lalu tampak lesu. Pertumbuhan penjualan di AS hanya naik tipis sebesar 2,6%—angka pertumbuhan paling lambat bagi perusahaan dalam hampir enam tahun—di tengah laporan keuangan yang sebenarnya positif.
Mengingat Walmart sering dianggap sebagai indikator utama bagi kondisi ekonomi AS secara keseluruhan, para ekonom mulai khawatir apakah daya beli konsumen akhirnya mulai menurun.
Anjloknya saham disebabkan oleh divisi kesehatan dan kebugaran Walmart, yang terdampak oleh kebijakan pembatasan harga obat baru, termasuk untuk obat jenis GLP-1. Jika kerugian tersebut tidak dihitung, pertumbuhan penjualan tercatat sebesar 3,4%, sedikit di bawah ekspektasi Wall Street yang mematok angka 3,5%. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, penjualan di toko yang sama tumbuh sebesar 4,6%.
CFO Walmart John David Rainey mengatakan kepada para investor bahwa kondisi konsumen melemah pada kuartal lalu, salah satunya dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar yang sempat melampaui $4 per galon pada bulan Juli. Pertumbuhan rata-rata upah per jam melambat, sentimen konsumen merosot bulan ini, dan tingkat tabungan pribadi masyarakat berada di titik terendah sejak tahun 2022.
Selain itu, musim semi lalu sempat menghadirkan dana pengembalian pajak (tax refund) dalam jumlah lebih besar dari biasanya, namun dana tersebut kini kemungkinan besar sudah habis terpakai.
Walmart menyatakan akan menginvestasikan kembali dana pengembalian tarif impor—yang mencapai rekor $2,9 miliar—untuk menurunkan harga produk. (NcangSepti)

