7 Eleven. Foto: ist

RINCIH.COM. Agung Bayu Purwoko, Sr. Director – Group Head for Strategy and Policy of Data Innovation and Digitalization mengatakan, sebuah transaksi HKD 8 di 7-Eleven Hong Kong terlihat sederhana. 7-ELEVEN, HK. Contactless. Tanpa PIN. HKD 8.

“Bagi nasabah, informasi itu cukup. Namun bagi pengelola data pembayaran, transaksi yang sama memuat merchant, lokasi, instrumen, kanal, counterparty, hingga kemungkinan tujuan ekonominya,” katanya, Sabtu (22/8/2026).

Pertanyaannya bukan lagi: apakah transaksi berhasil? Tetapi: bagaimana memahami maknanya?

Dari ISO 8583 ke ISO 20022

ISO 8583 terutama mendukung pertukaran pesan untuk pemrosesan transaksi kartu: nilai, mata uang, merchant, terminal, hingga otorisasi.

Namun kebutuhan berkembang. Peritel ingin memahami siapa membayar kepada siapa, dengan instrumen apa, di mana, apakah lintas batas, dan aktivitas ekonomi apa yang direpresentasikan.

“Di sinilah ISO 20022 bergerak lebih jauh dengan business concepts dan semantik yang lebih terstruktur,” katanya.

ISO 20022 Bukan Tujuan Akhir

Menurutnya, ISO 20022 menyediakan fondasi semantik, tetapi transaksi tetap perlu dihubungkan dengan konteks ekonomi dan statistik.

HKD 8 tadi misalnya: apakah konsumsi? Apakah merchant non-resident? Apakah terkait perjalanan? Bagaimana diklasifikasikan dalam statistik sektor eksternal?

“Namun dalam perjalanannya menjadi tansaction, data information, meaning dan Knowledge,” katanya.

Di sinilah diperlukan semantic layer-bahasa bersama yang menghubungkan merchant, customer, country, currency, payment instrument, residency, hingga economic activity.

“Inilah semantic interoperability: bukan sekadar sistem dapat bertukar data, tetapi memahami maknanya secara konsisten,” ungkapnya.

ISO 8583, ISO 20022, SDMX, BPM, dan SNA tidak perlu dipertentangkan. Tantangannya adalah menghubungkannya.

Mengapa Penting untuk Al?

Al dapat membaca: HKD 8-7-ELEVEN – Hong Kong Contactless. Tetapi untuk menjawab “Berapa pengeluaran cross-border masyarakat Indonesia untuk perjalanan?”, Al perlu memahami hubungan antara transaksi, merchant, lokasi, residency, dan klasifikasi ekonomi.

“Karena itu, Al-ready data bukan hanya data yang bersih dan tersedia, tetapi data yang memiliki konteks dan makna yang dapat dipahami mesin,” jelasnya.

ISO 20022 dengan demikian bukan sekadar migrasi teknologi. la adalah salah satu fondasi menuju knowledge infrastructure yang menghubungkan transaksi dengan statistik, Al, insight, dan kebijakan. (NcangSepti)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *