Pementasan "Petang di Taman: Sepenggal Filsafat Iseng" oleh Anteater. Foto: dok. Anteater

RINCIH.COM. JAKARTA – Anteater; sebuah laboratorium eksperimen karya, pada tahun ini mempersembahkan pementasan teater dengan judul “Petang di Taman: Sepenggal Filsafat Iseng”.  Pertunjukan ini merupakan reinterpretasi kontemporer dari naskah avant-garde legendaris karya maestro sastra Indonesia, Iwan Simatupang, yang ditulis pada tahun 1966. 

Naskah orisinal “Petang di Taman” mengisahkan sebuah taman yang menjadi saksi pertemuan empat karakter yang bergumul dengan keresahan eksistensial mereka: Lelaki Muda yang memberontak, Lelaki Tua yang terjebak masa lalu, Pecinta Balon yang mewakili anomali kekuasaan, dan Perempuan yang bergulat-tak-henti dengan trauma. 

Di tangan sutradara Ardianti Permata Ayu dan dramaturg Heri Purwoko, naskah ini dihidupkan

kembali dengan latar distopia yang suram, mencerminkan realitas dunia saat ini yang dikuasai ketamakan dan ketidakpedulian terhadap alam. 

Selaku Juri Festival Teater Jakarta Selatan (FTJS) Lailatin Na’ma mengapresiasi Anteater yang telah memilih sosok perempuan menjadi sutradara. Menurutnya sangat sedikit sekali sosok perempuan yang menjadi sutradara teater di Indonesia.

Anteater mampu mengubah panggung pertunjukkan menjadi tempat penampungan sampah plastik, ban, elektronik dan kaleng cat bekaa sebagai alas duduk di taman dengan latar belakang gedung dari instalasi besi. Skenografi yang dihadirkan Anteater dirancang untuk memperkuat kesan kelam dan tanpa harapan, juga sebuah kritik kondisi manusia ditatanan global yang telah rusak.

“Saya seperti melihat artistik dunia up and down menjadi metafora sendiri. Besi menjadi perhatian ketimbang sampah di taman,” ungkap Uli sapaan dari Lailatin Na’ma, di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu (17/9/2025).

Menanggapi Uli, Sutradara sekaligus Skenogarfi Anteater Ardianti Permata Ayu menjelaskan, background besi dengan segitiga terbalik, sebuah petanda pembangunan yang tidak pernah usai, bahkan mengalami kemunduran.

“Petang di Taman: Sepenggal Filsafat Iseng” adalah lebih dari sekadar pertunjukan teater; ia adalah sebuah perjalanan introspektif yang mengundang penonton untuk merenungkan makna dan absurditas kehidupan. Ketika “taman” dalam pementasan Iwan Simatupang adalah sebuah panggung tempat keresahan absurd. 

Atmosfer ini didukung oleh penataan suara oleh Derick Adeboi yang menciptakan lanskap audio disonan dari suara metal, desau angin, dan petir. Para pemain, termasuk Heri Purwoko, Idham Aulia Shaffansyah, Septiadi, Sukendi, dan Pracista Dhira Prameswari, menghidupkan kembali karakter-karakter ikonik ini dengan kedalaman emosional yang relevan, tentunya

dengan bantuan sentuhan Khairunnisah pada tata rias dan kostum.

“Para aktor sepertinya sudah khatam dan permainan dengan dialog absud enak dimainkan enak. Layak ditonton,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Dendi Madiya, selaku juri FTJS 2025, menjelaskan, dirinya menikmati sekali akting yang “renyah dan membumi” dalam memainkan unsur satir oleh tokoh orang tua dan lelaki muda. Sementara pemeranan oleh wanita dan pecinta balon masih teatrikal dengan adanya pembesaran akting dan gesture.

“Saya menikmati akting renyah dan membumi. Para aktor bisa menaklukkan teks,” katanya.

Sementara Deri, salah satu juri FTJS 2025 mengatakan, para aktor Anteater tidak terkekang oleh naskah “babon” yang dimainkannya dan tidak pula menunggangi naskah aslinya . “Ini menjadi tantangan sehingga punya nilai lebih,” katanya.

Proses Panjang

Pewujudan pementasan Petang di Taman: Sepenggal Filsafat ini tidak ujuk-ujuk, namun melalui proses panjang. Dramaturg Anteater Heri Purwoko mengakui, pewujudan pementasan ini lebih dari tiga bulan. Mulai dari pemilihan naskah, pendalaman naskah hingga pemilihan aktor. Semuanya memiliki keunikan tersendiri.

“Naskah utuh memiliki visualisasi sama, tp dibuat eskalasi dan diubah scene. Naskah asli dipecah persikuence untuk menemukan struktur cerita yang enak dimainkan, ” katanya 

Begitu pula dengan para pemain. Sang sutradara memberikan kebebasan kepada para aktor untuk menyampaikan gagasannya dari hasil bacaan mereka terhadap naskah. Namun hal terpenting sutradara tahu betu psikologi pemainnya.

“Saya memberikan kebebasan kepada pemain, silakan berikan gagasan apa saja. Makanya, setiap latihan hingga pementasan selalu ada perubahan,” ungkapnya.

Pementasan Petang di Taman: Sepenggal Filsafat Iseng oleh Anteater ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Teater Jakarta Selatan (FTJS) dan digelar pada Selasa, 15

September 2025 pukul 19.30 WIB di Gedung Pertunjukan Bulungan, Gelanggang Remaja Jakarta Selatan. 

FTJS sendiri terselenggara berkat kerjasama Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Selatan dengan SINTESA yang merupakan asosiasi teater wilayah Jakarta Selatan.

TENTANG ANTEATER EXPERIMENT:

Anteater Experiment adalah wadah kreatif yang terdiri dari individu-individu dengan beragam latar belakang disiplin ilmu, dari akademisi hingga jurnalis, yang bersatu untuk menciptakan karya-karya visual dan pertunjukan yang provokatif. (rc,NS)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *