RINCIH.COM. Brand lama bisa kembali relevan tanpa desain baru atau kampanye besar-besaran. Apakah kebangkitan Onitsuka Tiger ini kekuatan strategi jangka panjang atau sekadar hype generasi?.
Bagaimana sepatu retro Jepang berubah jadi ikon baru anak muda dunia?. Onitsuka Tiger kembali populer setelah lama dianggap sebagai merek retro yang biasa saja.
Sepatu bersol tipisnya kini jadi ikan baru yang dicari banyak orang. Turis menjadikannya oleh-oleh khas Jepang. Gen Z memakainya sebagai simbol gaya sederhana dan bersih.
Permintaan membuat beberapa wama ludes dalam hitungan jam. Saham Asics sebagai induk perusahaan ikut melanjak drastis. Kebangkitan ini terlihat di jalanan, media sosial, hingga pasar global.
Daya Tarik Baru
Tren global bergeser ke sepatu ringan dan simpel setelah era chunky berakhir. Mexico 66 dan Tokuten masuk tepat pada momen ini. Siluet ramping, wama berani, dan nuansa retro terasa sarigat modem.
Penjualan Onitsuka bahkan naik 50 persen pada paruh pertama 2025. Flogship Ginza ramai setiap hari dan jadi tujuan influencer. Layanan personalisasi tumit membuat pembeli semakin loyal. Kombinasi tren, kenyamanan, dan estetika membuat Onitsuka sulit diabaikan.
Budaya dan Nostalgia
Kesuksesan Onitsuka lahir dari tiga hal utama.
Budaya Jepang yang sederhana dan rinci memberi nilai emosional pada produknya.
Selebritas besar memakainya tanpa kontrak sehingga terlihat lebih autentik. Nostalgia Mexico 66 dari era 60-an membuatnya terasa klasik dan relevan.
Konten TikTok ikut mempercepat popularitasnya. Banyak anak muda membeli karena ingin membawa “sepotong Jepang” dalam keseharian. Identitas budaya menjadi pembeda terkuat mereka.
Tantangan Utama
Popularitas Onitsuka tetap menyimpan nsiko besar. Penjualan sekarang sangat bergantung pada tuns yang memanfaatkan murahriya yen. Jika nilai tukar berubah, permintaan bisa menurun. Gen Z juga cepat bosan dan mudah pindah tren.
Harga yang tinggi di luar Jepang menambah tekanan. Produksi berlebihan bisa menghilangkan aura elaklusif. Semua ini menuntut Onitsuka menjaga keseimbangan yang sulit.
Strategi Bertahan
Onitsuka memilih jalur premium untuk masa depan. Mereka masuk lagi ke pasar Amerika dengan posisi lebih mewah.
Kolaborasi dipilih secara ketat agar identitas tetap terjaga. Kehadiran di fashion week menguatkan citra global mereka. Toko dibuat lebih personal dan bercerita.
Tren ramping yang sedang naik turut membantu momentum. Semua langkah ini diarahkan untuk menjaga hype tetap sehat dan berkelanjutan.
Pelajaran untuk Brand
Kisah Onitsuka memberi tiga pelajaran penting bagi brand lain. Cerita dan budaya mampu menciptakan kedekatan yang sulit digantikan iklan. Eksklusivitas yang terkontrol dapat membangun hype tanpa biaya besar. Desain timeless sering lebih kuat daripada mengikuti semua tren.
Gen Z membeli makna, bukan hanya barang. Pengalaman belanja juga menjadi faktor penting. Dengan cerita yang tepat, sebuah brand bisa tumbuh jauh lebih besar dari produknya sendiri.(Indrawan Nugroho, Corporate Innovation Consultant, CEO of CIAS)

