RINCIH.COM. Bank Indonesia (BI) melaporkan, Desember 2025, penjualan ritel tumbuh lebih lambat dari bulan sebelumnya. Namun lajunya diperkirakan lebih cepat secara tahunan pada Januari 2026.
Berdasarkan survei penjualan eceran BI pada Desember 2025, kinerja penjualan eceran tumbuh melambat secara tahunan dan meningkat secara bulanan. Kondisi itu tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang tercatat 229,8, lebih tinggi dari level indeks 222,9 pada November 2025.
“IPR Desember tumbuh 3,5% secara tahunan atau (year-on-year/yoy), atau lebih rendah dibanding pertumbuhan pada November 2025 yang sebesar 6,3%,” demikian tertulis dalam laporan BI yang dirilis Selasa (10/2/2026).
Pertumbuhan pada pengujung tahun terutama didukung oleh pertumbuhan penjualan suku cadang dan aksesori, makanan, minuman, dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Desember 2025 tumbuh sebesar 3,1% (month-to-mont/mtm), lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,5% (mtm).
Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama peralatan informasi dan komunikasi, barang budaya dan rekreasi, suku cadang dan aksesori, serta makanan, minuman, dan tembakau sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat saat Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru. Hal ini didukung pula oleh kelancaran distribusi.
Kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 diperkirakan meningkat secara tahunan. Hal ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 yang diprakirakan tumbuh sebesar 7,9% (yoy).
Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang. Secara bulanan, penjualan eceran pada Januari 2026 diperkirakan terkontraksi sebesar 0,6% (mtm) sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Meski demikian, kontraksi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,7% (mtm).
Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Maret dan Juni 2026, diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Maret dan Juni 2026 yang tercatat masing-masing sebesar 175,7 dan 156,3, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH pada periode sebelumnya sebesar 168,6 dan 154,5. Peningkatan tersebut didorong oleh ekspektasi kenaikan harga pada periode Idulfitri 1447 H. (NcangSepti)

