Toko Mixue. Foto: ist

RINCIH.COM. Kalau dulu disebut sebagai “Malaikat Pencabut Ruko Kosong”, sekarang Mixue justru melakukan langkah berbeda dengan menutup ratusan gerainya di luar negeri.

Jumlah gerai dari perusahaan minuman olahan susu dan es krim asal China itu berkurang sebanyak 428 unit dalam setahun terakhir. Namun, uniknya laba mereka justru naik 33%. Kok bisa? Gimana penjelasannya?

Dari Ekspansi Masif Jadi Lebih Selektif

Banyaknya jumlah gerai dalam satu wilayah meningkatkan persaingan internal dan menekan profitabilitas.

Oleh karena itu, Mixue akhirnya melakukan penyesuaian strategi dengan menutup sebagian gerai.

Penutupan gerai Mixue sendiri terkonsentrasi di pasar Asia Tenggara, khususnya di Vietnam dan Indonesia, yang menjadi pasar luar negeri terbesar mereka. Ini menjadi bukti kalau Mixue tidak lagi menggunakan strategi ekspansi masif.

Pada 2025, pendapatan Mixue tercatat meningkat 35% dari tahun sebelumnya. Sementara, laba bersih mereka naik 33%. Di saat yang sama, jumlah gerai mereka turun menjadi 4.467 unit.

Kinerja Keuangan Mixue 2025

Pendapatan: CNY33,56 miliar (Rp85,61 triliun)

Laba Bersih: CNY5,93 miliar (Rp15,12 triliun)

Jumlah Gerai: 4.467 unit

Kalau gitu, kenapa banyak gerai yang ditutup?

Mixue sekarang mengambil strategi dengan melakukan ekspansi yang lebih selektif dan terukur. Raksasa es krim ini memilih melanjutkan ekspansi ke pasar baru, seperti Amerika Serikat dan Kazakhstan.

Selain itu, Mixue juga mulai memasuki pasar Malaysia dan Thailand melalui brand berbeda, yaitu Lucky Cup. (NcangSepti, Big Alpha)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *