RINCIH.COM. Menurut Euromonitor International Ltd., perusahaan pakaian olahraga menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mempertahankan pertumbuhan seiring dengan perubahan lanskap pasar global akibat kenaikan biaya, perang, dan pola belanja konsumen yang lebih berhati-hati.
“Konsumen akan tetap berbelanja, namun mereka akan lebih mencermati nilai dari setiap pembelian,” demikian dinyatakan dalam laporan bulan Juli. “Merek yang sukses harus mampu membenarkan harga yang lebih tinggi melalui proposisi nilai yang lebih kuat, baik itu dari segi performa teknis, daya tahan, maupun komunitas.”
Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global diproyeksikan sebesar 2,9% tahun ini, sementara inflasi diperkirakan mencapai 4,6%; kenaikan harga energi dan gangguan arus perdagangan turut menambah tekanan biaya di seluruh industri pakaian dan alas kaki.
Merek pakaian olahraga menghadapi tekanan tambahan karena banyak tekstil berperforma tinggi dan serat sintetis yang terbuat dari minyak mentah.
Gangguan di sekitar Selat Hormuz akibat konflik yang melibatkan Iran telah meningkatkan biaya material dan logistik, sehingga memaksa perusahaan untuk menyeimbangkan margin di tengah permintaan konsumen yang melambat.
Pada saat yang sama, meningkatnya biaya hidup mendorong konsumen untuk lebih cermat dalam berbelanja, sehingga aspek performa produk, daya tahan, dan keterlibatan komunitas menjadi semakin penting.
Kesehatan dan kebugaran (wellness) diperkirakan akan tetap menjadi prioritas bagi konsumen berpenghasilan tinggi, yang menciptakan peluang di luar kategori pakaian melalui layanan, teknologi, dan produk yang mengedepankan pengalaman.
Euromonitor menyatakan bahwa volatilitas pasar mempercepat aksi merger, akuisisi, dan penawaran umum perdana (IPO) seiring upaya perusahaan untuk mencapai skala yang lebih besar, rantai pasok yang lebih kuat, diversifikasi, serta mengurangi dampak tarif.
Sementara itu, menurut Euromonitor, merek-merek asal Tiongkok sedang melakukan ekspansi global dengan memadukan harga terjangkau, inovasi, kecepatan, dan teknologi. Pihaknya menyebut kolaborasi Bosideng International Holdings Ltd. dengan Kim Jones serta ekspansi luar negeri Urban Revivo sebagai contohnya.
“Hal ini akan memperketat persaingan, mendorong pemain internasional yang sudah mapan untuk mempercepat siklus inovasi dan memperkuat keterlibatan digital,” tambahnya.
Kawasan Asia-Pasifik diprediksi menjadi pasar pakaian olahraga dengan pertumbuhan tercepat hingga tahun 2030, sementara Amerika Utara, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika akan tetap menjadi penyumbang terbesar bagi nilai penjualan global.
Aktivitas luar ruangan, lari, olahraga raket, dan tren olahraga wanita yang terus meningkat diperkirakan akan menopang permintaan. (NcangSepti, retailasia.com)

