Ilustrasi ritel.modern dan koperaso daerah merah putih. Foto: iat

RINCIH.COM-JAKARTA. Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan kepada pemilik ritel modern untuk menghentikan mendirikan atau menambah gerai ritelnya di desa, karena sudah asa koperasi desa.

“Biarkan di desa itu si koperasi desa yang jualan ritel barang-barangnya,” tegas Ferry mengutip YouTube IDN Times, Kamis (15/1/2026). 

Pasalnya, telah hadir 80.000 Koperasi Desa Merah Putih yang akan dibangun di Indonesia. Adapun targetnya, sebanyak 27.000 unit bangunan fisik akan rampung pada April 2026.

Fery menambahkan, salah satu unit usaha yang akan dijalankan KopDes/Kel Merah Putih adalah gerai sembako yang nantinya akan dikelola secara ritel modern. 

Namun, dia menjelaskan, jika KopDes/Kel Merah Putih tidak mampu memproduksi suatu barang, maka ritel modern bisa mengambil alih dan boleh menjual barang-barang tersebut. Menurutnya, kehadiran KopDes/Kel Merah Putih akan menggerakkan perekonomian di desa.

Ferry menilai, jika masyarakat membelanjakan uang dan membeli barang di KopDes, uang tersebut akan berputar dan mensejahterakan desa tersebut. Sebaliknya, dia menilai, uang yang diterima ritel modern justru hanya akan kembali ke pemegang saham. 

“Kalau ritel modern yang sebelah sana itu ada di desa, uang orang desa itu akan balik ke pemegang saham atau yang punya yang tinggal di Jakarta,” ujarnya. 

Ferry menjelaskan KopDes/Kel Merah Putih nantinya akan memiliki beragam unit usaha, mulai dari gerai sembako yang dikelola dengan konsep ritel modern, apotek dan klinik desa, lembaga keuangan mikro, pergudangan, hingga layanan logistik lengkap dengan sarana transportasi. 

Selain itu, KopDes/Kel Merah Putih juga diberi keleluasaan mengembangkan usaha sesuai potensi lokal, seperti kuliner, kerajinan, hingga usaha produktif lainnya. Terlebih, dia menuturkan tujuan keberadaan KopDes/Kel Merah Putih adalah menjadi penyalur dan menjual barang kebutuhan pokok masyarakat dengan harga yang terjangkau. 

“Karena sekarang ini, harga di desa-desa itu menjadi relatif lebih mahal karena terlalu panjangnya mata rantai distribusi,” pungkasnya. (NcangSepti, Bisnis.com)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *