RINCIH.COM-JAKARTA. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai momentum Ramadan—Lebaran tetap menjadi peluang emas bagi sektor ritel, meski ada sejumlah tantangan yang harus diantisipasi.
“Saya masih menyakini, setiap Ramadan—Lebaran, konsumsi rumah tangga selalu menjadi titik tertinggi dalam satu tahun kalender,” kata Huda mengutip Bisnis, Selasa (3/2/2026).
Tambahnya, dorongan masyarakat untuk berbelanja meningkat seiring sifat konsumtif dan kenaikan pendapatan, termasuk tunjangan hari raya (THR). “Kondisi tersebut akan mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB),” tambahnya.
Lanjutnya, faktor utama penggerak konsumsi tetap pada peningkatan pendapatan, meski inflasi turut memengaruhi pola belanja. “Pergeseran permintaan agregat biasanya memicu kenaikan harga, yang kemudian berdampak pada penurunan jumlah barang yang diminta,” tambahnya.
Huda menegaskan, ketika harga meningkat, maka terjadi pergeseran lagi barang yang diminta. Barang yang diminta cenderung berkurang.
Huda menilai pemerintah perlu memastikan inflasi tetap terkendali dengan menjaga pasokan agar tidak terjadi kelangkaan. Huda menuturkan jika stok terjaga dan harga stabil, peningkatan pendapatan akan berdampak positif pada konsumsi rumah tangga, mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun demikian, ritel juga menghadapi tantangan struktural dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2025 dibandingkan 2024, yang menekan jumlah pekerja dengan pendapatan tambahan.
“Hal ini dapat memperlambat pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara agregat,” terangnya.
Huda berharap sepanjang Agustus 2025–Februari 2026 terjadi penyerapan tenaga kerja yang signifikan. “Melihat PMI manufaktur yang ekspansif, seharusnya ada penyerapan tenaga kerja,” pungkasnya. (NcangSepti)

