Ilustrasi iklan. Foto: istimewa

RINCIH.COM. Pasar media ritel Indonesia adalah tambang emas senilai 642 juta dolar AS yang tumbuh 17,8% setiap tahun. Sebagai contoh, Tokopedia membukukan pendapatan iklan sebesar 533 miliar rupiah pada tahun fiskal 2025. “Pendapatan tersebut melonjak 45% hanya dalam satu kuartal dengan menawarkan penargetan yang lebih baik. Mereka hanya menjual akses kepada pelanggan mereka. Sekarang lihatlah jaringan ritel fisik di Indonesia,” kata Teja Kusuma, Retail Transformation Advisor, Jumat (24/7/2026).

Tambahnya, mereka memiliki ribuan lokasi, jutaan pembeli setiap minggu, dan catatan akurat tentang apa yang sebenarnya dibeli setiap orang. Namun selama dua tahun terakhir, hanya satu pengecer fisik yang mengambil langkah maju. Ranch Market dan Farmers Market mengizinkan merek untuk beriklan di layar dalam toko mereka pada awal tahun 2024.

“Sejak itu? Hening. Hampir tidak ada yang mengikuti jejak mereka,” ungkapnya.

Standar toko kelontong hanya mendapatkan margin keuntungan yang ketat, yaitu 2% hingga 5% dari produk yang dijualnya. Pendapatan iklan menghasilkan margin yang sangat besar karena hanya memanfaatkan lalu lintas pelanggan yang sudah ada. Peritel tidak perlu memberikan diskon untuk satu pun barang untuk mendapatkannya.

“Bagi jaringan toko yang berjuang dengan margin keuntungan yang ketat, ini adalah uang paling berharga yang tersedia. Sebagian besar peritel di Indonesia hanya memberikannya begitu saja. Jadi, apa yang menghalangi sebuah toko untuk mengklaimnya?,” katanya.

Bukan kurangnya pengunjung. Bukan pula kurangnya merek yang bersedia membayar. Masalahnya adalah peritel tidak dapat mengemas pelanggan mereka ke dalam audiens yang mudah dibeli oleh merek. Peritel tidak dapat menjual akses ke “orang tua yang membeli susu formula bayi di Surabaya bulan ini” jika sistem kasir hanya mencatat bahwa 4.000 barang acak telah keluar dari gedung.

“Itu adalah masalah data. Dan itulah celah yang sedang diperbaiki oleh operator paling cerdas saat ini.”

Lanjutnya, di Loyalytics AI, data toko fisik, aplikasi, dan loyalitas yang tersebar dari peritel dan mengubahnya menjadi audiens yang jelas yang akan dibayar oleh merek untuk dijangkau. “Lebih baik lagi, kami membuktikan hasil penjualan setelahnya. Toko-toko yang membangun sistem ini akan mendapatkan uang iklan di atas setiap keranjang belanja. Sisanya hanya akan terus menyewa audiens dari platform yang sudah memahami hal ini.” (NcangSepti)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *