Ilustrasi seld service. Foto: ist

RINCIH.COM. Melihat Amerika Serikat sebagai negara adidaya dengan segala industri yang besar dan didukung dengan teknologi canggih menjadikan negara ini menjadi salah satu barometer dan inspirasi negara-Negara berkembang.

Terutama dari segi service/pelayanan. Amerika Serikat telah menerapkan bentuk layanan administrasi pemerintah seperti kependudukan, asuransi, bank, pajak dan juga bandara. Bahkan SPBU sudah menerapkan self service dengan tujuan untuk urusan kepraktisan pelanggan guna memenuhi segala kebutuhannya. 

Hampir semua perusahaan swasta di negeri paman SAM khususnya di bidang retail Juga menerapkan hal yang sama contohnya seperti supermarket, outlet fashion & furniture sehingga mereka tidak lagi membutuhkan staff/pramuniaga untuk menyambut serta mendampingi setiap customer yang datang untuk menjelaskan fitur dan product knowledge suatu produk yang dijualnya.

Mereka hanya membuat sistem aplikasi yang nyaman dan mudah untuk di operasikan sehingga customer dengan bebas berselancar memilah milih produk yang diinginkan tanpa adanya kasir yang akan menanyakan apakah customer tersebut punya member atau tidak.

Mesin service telah mengakomodir segala hal yang dilakukan oleh customer. Selain itu contoh kecil semua SPBU di Amerika sudah menerapkan self service. Para pengendara yang ingin membeli bensin hanya memasukkan kode barcode Kendaraannya melalui mesin pengisian dan mengisi sendiri kendaraannya sesuai dengan nilai yang di input oleh customer melalui aplikasi SPBU tersebut.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Di Indonesia, banyak business unit Telah menerapkan hal ini, contohnya bisnis laundry dan yang paling populer adalah IKEA. IKEA mencoba menerapkan edukasi self service kepada seluruh lonsumennya, dengan harapan seluruh customer nya harus selalu membaca price Feature and product knowledge, segala product yang dijualnya.

Sehingga penggunaan SDM cenderung minim dan hanya berfungsi pada saat barang yang dibeli customer ingin di transaksikan di kasir dan di packing. Selebihnya tidak ada pelayanan yang ramah dan advice dari pramuniaga ketika pelanggan masuk dan mengeksplorasi toko IKEA. 

Yah mungkin dari segi cost lebih efisien, Namun Apakah fenomena ini cocok untuk budaya di Indonesia?. (Muh Renal R.,)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *