Pertumbuhan eckmmerce di Asia. Foto: ECDB

RINCIH.COM. Asia tidak hanya memimpin e-commerce global. Ini memperlebar celah. Menurut ECDB, Asia diperkirakan akan menghasilkan pendapatan e-commerce sebesar US$3,7 triliun pada tahun 2029, lebih dari dua kali lipat dari proyeksi Amerika Utara US$1,6 triliun dan jauh di atas US$1,1 triliun Eropa.

Sementara, China telah membangun salah satu ekosistem perdagangan digital tercanggih di dunia, menggabungkan perdagangan seluler, pasar, pembayaran, logistik, perdagangan sosial, dan belanja streaming langsung menjadi pengalaman konsumen yang mulus.

India dan Asia Tenggara menambahkan jutaan pembeli online baru setiap tahun. Pasar seperti Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand, dan Malaysia terus mendapat manfaat dari perluasan akses internet, peningkatan infrastruktur digital, dan meningkatnya adopsi konsumen.

Sementara itu, pertumbuhan di Amerika Utara dan Eropa semakin terkendala oleh kematangan pasar. Ritel online sudah tertanam kuat dalam perilaku konsumen, membuat ekspansi di masa depan lebih bergantung pada keuntungan tambahan daripada pergeseran adopsi skala besar.

Masa depan pertumbuhan e-commerce tidak lagi terutama tentang penetrasi pasar. Ini tentang inovasi ekosistem, pengalaman yang mengutamakan seluler, dan kemampuan untuk menghubungkan perdagangan, konten, pembayaran, dan logistik dalam skala besar.

Perusahaan yang terus membandingkan pasar Barat hanya berisiko kehilangan di mana gelombang inovasi ritel berikutnya sudah terjadi. (NcangSepti, Dominique Pierre Locher)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *