Bantuan bencana olrh Alfamart. Foto: ist

RINCIH.COM. Dalam riset kami tentang brand-brand yang turun membantu korban banjir Sumatera, ada satu hal yang langsung mencolok: bagaimana sebuah perusahaan merespons ketika situasi sedang tidak “menguntungkan” bagi mereka.

Ambil contoh dari visual yang saya lampirkan: Alfamart. Di saat beberapa gerainya ikut terdampak, rak kosong, dan publik mulai berspekulasi, Alfamart memilih respons yang jarang kita lihat: bukan menyalahkan, tapi membantu. Bukan defensif, tapi hadir.

Mereka mengirim bantuan logistik senilai 1,5 miliar rupiah dan ini bukan sekadar CSR musiman. Ini adalah bentuk paling sederhana dari brand responsibility: ketika krisis terjadi, siapa yang kamu prioritaskan? Aset atau manusia?

Bencana selalu membuka dua sisi: sisi rapuhnya masyarakat, dan sisi sejati sebuah brand. Karena di situ terlihat jelas siapa yang melihat dirinya sebagai “perusahaan”, dan siapa yang melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas.

Respons seperti ini relevan bukan hanya untuk retail, tapi untuk semua sektor: Brand yang benar-benar kuat adalah brand yang memahami bahwa mereka hidup bersama masyarakat, bukan di atasnya.

Ini reminder buat kita semua yang berkecimpung di komunikasi, PR, dan brand strategy: Di situasi krisis, publik tidak menilai kualitas copywriting, tapi kualitas kepedulian.

Semoga semakin banyak brand yang memilih untuk hadir, bukan hanya bicara. Karena setelah bencana mereda, hanya satu yang akan diingat: siapa yang benar-benar ada di sana. (Pracoyo Wiryoutomo, Digital PR & Crisis Communication Strategist)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *