RINCIH.COM-JAKARTA. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau Alfamart (AMRT) memilih langkah membeli kembali sekitar 650 juta lembar sahamnya sendiri senilai Rp1,5 juta.
Secara resmi, manajemen menyebut tujuan utama buyback ini adalah meningkatkan nilai bagi pemegang saham sekaligus menjaga stabilitas harga saham AMRT di bursa. Dengan mengurangi jumlah saham beredar, perusahaan berharap kinerja per saham terlihat lebih solid, sementara sentimen pasar terhadap emiten ritel ini tetap terjaga positif.
Manajemen AMRT menegaskan, aksi buyback jumbo ini tidak akan mengganggu kelangsungan usaha. Perseroan mengklaim masih memiliki modal dan arus kas yang cukup untuk membiayai pembelian kembali saham sekaligus mendukung ekspansi dan operasional bisnis yang terus berjalan. Di atas kertas, aksi ini didesain sebagai langkah strategis, bukan reaksi panik terhadap pasar.
“Pembelian kembali saham juga memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam pengelolaan modal jangka panjang,” jelas manajemen AMRT dari laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (5/12/2025).
Pernyataan ini menegaskan bahwa buyback bukan sekadar gimmick jangka pendek, tetapi bagian dari pengelolaan struktur permodalan yang lebih luwes.
Salah satu elemen penting dari strategi ini adalah keberadaan saham treasuri. Manajemen AMRT beralasan, aksi buyback saham memungkinkan saham treasuri dapat dijual kembali di masa mendatang dengan nilai optimal.
Ketika perusahaan membutuhkan tambahan modal, saham-saham hasil buyback tersebut dapat kembali diedarkan, memberi ruang bagi perseroan untuk bermanuver tanpa selalu bergantung pada penerbitan saham baru.
Meski demikian, perseroan tidak menutup mata terhadap konsekuensi di sisi neraca. Aksi ini berpotensi menurunkan aset dan ekuitas sebesar nilai buyback.
Manajemen menggambarkan, jika seluruh anggaran maksimum Rp1,5 triliun digunakan, maka total aset dan ekuitas AMRT akan berkurang sebanyak-banyaknya sebesar jumlah tersebut. Secara nominal, dana kas keluar, tetapi di sisi lain perusahaan berharap terjadi “pertukaran nilai” dalam bentuk penguatan kinerja per saham.
Sebagai konteks, sebelum pelaksanaan buyback, AMRT membukukan total aset sebesar Rp40,02 triliun per 30 September 2025. Total ekuitas tercatat Rp18,61 triliun, dengan laba bersih periode berjalan mencapai Rp2,31 triliun. Laba bersih per sahamnya pada periode tersebut sebesar Rp55,75.
Angka-angka ini menggambarkan fondasi keuangan yang relatif kuat saat perseroan memutuskan menjalankan aksi korporasi ini.
Setelah buyback, manajemen memproyeksikan total aset akan berkurang menjadi sekitar Rp38,52 triliun dan total ekuitas turun menjadi sekitar Rp17,11 triliun.
Namun, di sisi lain, laba bersih per saham justru diperkirakan naik menjadi sekitar Rp56,63 per saham. Secara teori, ini sesuai logika dasar buyback: jumlah saham beredar berkurang, sehingga porsi laba yang “dinikmati” per lembar saham menjadi lebih besar.
“Pendapatan perseroan diperkirakan tidak menurun akibat pelaksanaan pembelian kembali saham. Pembelian kembali saham diperkirakan tidak memiliki dampak negatif yang material terhadap keuangan perseroan,” lanjut manajemen AMRT di prospektusnya.
Dengan kata lain, manajemen ingin menegaskan bahwa aksi ini tidak dilakukan dengan mengorbankan mesin pendapatan inti perusahaan.
Secara teknis, buyback akan dilakukan secara bertahap atau penuh melalui Bursa Efek Indonesia. Perseroan akan menunjuk satu perusahaan efek atau sekuritas anggota bursa sebagai pelaksana pembelian kembali saham. Jangka waktu pelaksanaan ditetapkan sejak 8 Desember 2025 hingga 6 Maret 2026, memberi ruang cukup lebar bagi perusahaan untuk merespons dinamika harga saham di pasar.
Untuk menjaga tata kelola dan mencegah potensi benturan kepentingan, aksi buyback ini juga disertai pembatasan ketat. Komisaris, direksi, karyawan, pemegang saham utama, serta pihak-pihak yang berhubungan dengan usaha AMRT dilarang melakukan pembelian kembali saham dalam periode buyback atau pada hari yang sama dengan penjualan saham hasil buyback perseroan melalui BEI.
Aturan ini menjadi pagar penting agar manuver korporasi bernilai Rp1,5 triliun ini tetap berada dalam koridor fairness bagi seluruh pelaku pasar.
Saham AMRT sendiri pada Jumat (5/12/2025) ditutup pada posisi Rp1.845 per lembar. Sementara pada Jumat (28/11/2025) berada pada posisi Rp1.800 per lembar. Artinya, dalam sepekan naik 2,5%. (NcangSepti, SWA.co.id)

