RINCIH.COM-DEPOK. Modal bisnis tidak melulu harus didapati melalui pinjaman ke bank. Masih ada cara lain untuk mendapatkan pinjaman untuk modal bisnis, diantaranya dengan memanfaatkan “pinjaman” dari teman atau suplier. Hal ini yang dilakukan oleh Imam Choiril Roziqin, Owner Top Score Outlet dan Sekretaris Umum HIPMI Depok.
“Saya oleh supplier dikasih hutang. Saya hidup dari suplier,” katanya di acara Bedah UMKM, Kampus UI, Depok, Selasa (25/11/2025).
Berawal dari seorang kawan di HIPMI Aceh yang menutup toko sepatunya, lantaran sepi pembeli. Sang kawan pun meminta tolong kepada teman-tamanya untuk menjual sepatunya. Imam langsung menyambut, 150 juta dalam bentuk sepatu pun beralih kepadanya.
“Saya nyahut untuk jualin. Iya-in dulu, pusing kemudian,” katanya.
Sepatu sudah di tangan Imam. Apa selanjutnya? Tahun 2013, Imam pun menyusun strategi bagaimana agar sepatu terjual. Platform media sosial Twitter digunakan, sembari mencari ruko atau kafe yang bisa disewanya. Kafe bukan sembarang kafe yang diiinginkan Imam.
“Saya cari ruko atau kafe yang sepi, tapi menu makanan yang disajikan enak-enak,” ungkapnya.
Setelah sekian lama mencari, akhirnya Imam menemukan ruko dua lantai di Jalan Kelapa Dua, Depok. Menurut ruko tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjual sepatu. Lantai satu ruko dipergunakan pemiliknya untuk menjual mie, namun lantai kedua kosong. Hal itu persis yang diinginkan Imam.
Imam pun meminta kepada pelayan mie, agar dipertemukan kepada pemiliknya. Akhirnya Imam pun bertemu dengan pemilik ruko mie, Doni, namanya. Imam mengatakan kepada Doni, dirinya mampu “meramaikan” roku mie, asalkan lantai dua ruko dimanfaatkan Imam untuk menjual sepatu dan berbagai aktivitas lain.
Kerjasama pun terjadi. Imam tidak mengeluarkan dana untuk sewa ruko dari Doni. Tapi, Doni menitipkan nama untuk toko Imam, dengan nama Top Score. Dan Imam pun menerimanya. Hingga sekarang brand Top Score masih digunakan dengan payung PT. Mencetak Banyak Gol. Ruko pun ramai pengunjung.
“Waktu itu kita adakan nonton bareng liga Inggris. Dan pengunjung pun padat. Masa sih, dari sekian banyak pengunjung tidak ada yang beli mie dan sepatu”ungkap lelaki mantan penjual power bank ini.
Setahun berjalan, Doni pun menjual rukonya. Dengan terpaksa Imam harus memutar otak untuk mencari tempat untuk usaha sepatunya. Imam akhirnya menyewa ruko di sampingnya. Kemudian pindah lagi dengan menyewa toko bunga di jalan yang sama.
“Alhamdulillah sekarang sudah punya delapan cabang di Bekasi, Semarang, Surabaya, Tangerang, Bogor, Bandung dan Jakarta,” katanya.
Imam mengaku, selama 10 tahun menjalani bisnis, dirinya tidak melakukan pinjaman di bank untuk modal usaha. Awalnya Imam tidak membutuhkan modal banyak, karena semua bisa dilakukan sendiri, mulai dari jualan, memgemasi hingga mengirim. Namun seiring berjalanya waktu, Imam tak mampu melalukan sendiri. Dicarilah karyawan untuk membantu bisnisnya. Sekarang Imam sudah memiliki 80 karyawan.
“Prinsip saya, lama-lamaan kaya, bukan cepat-cepatan kaya. Jadi bisnis itu well creation, bukan semata sekadar keren,” katanya lelaki yang sedang mengambil gelar magister ekonomi UI.
Suatu ketika Imam ditegur dosennya, untuk apa melanjutkan kuliah, toh sudah mapan dari segi financial. “Saya ingin kaya di dompet dan otak,” jawabnya.
Imam mengakui, dengan belajar membuat dirinya mendapat pengetahuan lebih fokus sehingga bermanfaat dalam membuat keputusan.
Keputusan menggunakan teknologi pun dilakukan. Dengan dalih efesiensi dan efektifitas, Imam tidak segan-segan berinvestasi dalam penggunaan teknologi. Bahkan Imam telah membuat aplikasi untuk mempermudah bisnisnya. Aplikasi Top Score-toko olahraga, namanya.
“Saya menggunakan “tenaga dalam” berupa tehnologi untuk efisensi” katanya.
Aplikasi yang dibuat Imam tidak sekadar untuk berjualan, tapi bagaimana membuat komunitas-komunitas baru. Karena core bisnis Top Score adalah komunitas.
“Ada komunitas main bola, padel, tenis. Kita main bareng dengan mereka. Kita ingin menjadi perusahaan nomor satu membawa kebahagiaan,” ungkapnya. (Septiadi, NcangSepti)

