RINCIH.COM. SMF Rset Ritel 2026 melaporkan, Konsumen mulai memprioritaskan pemeliharaan aset yang sudah ada dibandingkan pembelian barang baru. Sektor otomotif (suku cadang) tetap positif, sementara kategori gaya hidup mengalami kontraksi dalam.
Pertumbuhan penjualan suku cadang otomotif mengalami peningkatan lebih dari 11.2 persen. “Pertumbuhan kuat karena konsumen menunda pembelian kendaraan baru dan memilih merawat kendaraan lama di tengah suku bunga tinggi,” tulis laporan SMF, yang diterima, Rabu (29/7/2026).
Sementara, penjualan pakaian dan tekstil menurun hingga 12 persen. Penurunan drastis pasca-Ramadhan karena belanja fesyen dialihkan untuk menutupi kenaikan biaya transportasi dan pangan.
Secara umum SMF melaporkan, momentum positif di Q1 terhenti secara mendadak pada Juni 2026. Kombinasi kenaikan harga energi domestik dan pengetatan moneter agresif menciptakan tekanan biaya hidup (cost-of-living squeeze) yang menghantam daya beli kelas menengah perkotaan.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi (Pertamax) pada Juni 2026 sebesar 32 persen, menguras pendapatan diskresioner rumah tangga. Terlebih, Suku Bunga BI di posisi 5.75 persen.
Kenaikan kumulatif 100 bps dalam 4 minggu untuk menstabilkan rupiah dan menekan inflasi inti.
Stabilitas mata uang Repiah berada di Rp 18.200. Rupiah mendekati level terendah historis terhadap USD, memicu kenaikan biaya impor barang ritel.
Kecepatan Penjualan Ritel (Semester 1)
Indeks Penjualan Riil (IPR) menunjukkan puncak tajam pada Maret karena momentum Ramadhan dan Idul Fitri. Namun, sejak April hingga Juni, grafik menunjukkan tren penurunan yang konsisten, berakhir dengan pertumbuhan tahunan sebesar -4.4% pada Juni. (NcangSepti)

