Fenomena promo ambil sepuasnya. Foto: ist

RINCIH.COM. Belakangan ini banyak supermarket bahkan di segmen premium mulai memainkan promo “ambil sepuasnya” untuk buah dan sayur. Sekilas terlihat seru dan menarik: pelanggan merasa bebas memilih dan menumpuk sebanyak mungkin dengan harga tetap. Tapi kalau kita perhatikan lebih dalam, ada sisi psikologis yang menarik di baliknya.

Psikologi di balik keranjang belanja promo seperti ini memicu sense of control pelanggan merasa sedang “menang”, bukan sekadar berbelanja. Ada dorongan emosional untuk “memaksimalkan nilai” dari harga yang dibayar. Dalam konteks buah dan sayur, di mana kualitas dan kesegaran sering jadi pertimbangan utama, promo ini memindahkan fokus dari quality driven menjadi quantity driven.

Apa dampaknya untuk kategori fresh?

Dari sisi penjualan jangka pendek, angka bisa melonjak. Tapi dari sisi perilaku, pelanggan cenderung mengambil lebih dari kebutuhan aktual. Kurang memperhatikan kondisi dan jenis produk. Meningkatkan risiko food waste di rumah.

Kita sedang melihat perubahan kecil tapi penting: bagaimana persepsi “hemat” bisa menggeser perilaku mindful consumption yang sebelumnya menjadi ciri pelanggan supermarket premium.

Lalu, tren apa selanjutnya? Kemungkinan besar, setelah euforia “ambil sepuasnya” mereda, pasar akan bergerak ke arah “value with purpose”: Curated bundle promotions (paket sehat, seasonal, atau zero waste). Smart weigh pricing dengan storytelling di balik produk. Experience-based purchase pelanggan membayar untuk fresh experience, bukan sekadar volume.

Supermarket tidak hanya menjual produk segar, tapi juga mindset baru tentang bagaimana kita menghargai makanan dan keberlanjutan.

Menarik untuk diamati: apakah “ambil sepuasnya” ini hanya tren musiman, atau pertanda perubahan perilaku belanja yang lebih dalam?. (Teguh Heri Prasetiyo)

By Septiadi

Adalah seorang penulis, dengan pengalaman sebagai wartawan di beberapa Media Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *