RINCIH.COM. Pelemahan nilai tukar rupiah menembus Rp 18.000 per dolar AS. Hal ini memunculkan strategi berbeda di kalangan emiten ritel. Saat sejumlah peritel seperti AMRT hingga RANC mulai membuka ruang.
Penyesuaian harga akibat tekanan biaya impor, MDIY justru memilih mempertahankan harga produk dengan mengandalkan efisiensi operasional dan skala bisnisnya.
Grup Alfamart melalui PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) telah memberi sinyal bahwa tekanan kurs berpotensi berujung pada kenaikan harga produk di tingkat konsumen.
Direktur Finance PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) Suantopo Po mengatakan, produk yang menggunakan komponen impor menjadi kelompok yang paling rentan terdampak pelemahan rupiah.
Suantop menyebutkan produk seperti susu, kacang hijau, dan kedelai yang masih bergantung pada pasokan impor berpotensi mengalami kenaikan biaya ketika nilai tukar terus melemah.
Kekhawatiran serupa juga muncul dari PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT). Corporate Secretary AMRT Tomin Widian mengatakan, perseroan telah menerima informasi dari sejumlah pemasok mengenai kemungkinan kenaikan harga produk.
Menurut dia, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga pertumbuhan penjualan ketika daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih sementara tekanan biaya terus meningkat. (NcangSepti)

