RINCIH.COM. Kalo dilihat sekilas, MR. DIY Indonesia ini terlihat seperti cerita ekspansi biasa. Tapi kalo diliat lebih dalam, we know basically how to scale properly.
Pertama, growth-nya solid, bukan gimmick.
Revenue naik dari 3,9T ke 7,9T dalam dua tahun, laba bersih tembus 1,13T, dan toko jadi 1.226. Menariknya, leverage justru turun. Artinya, mereka tumbuh pakai mesin bisnis, bukan sekadar dorong utang.
Kedua, strateginya simpel tapi konsisten.
Mereka gak reinvent the wheel. Format sama, value sama yaitu murah, lengkap, dan dekat. Terus di scale ke kota baru. Seperti eksekusi Ansoff Matrix ke penetration dan market development.
Ketiga, kekuatan ada di sistem, bukan ide.
Supply chain terpusat, 18.000+ SKU, store rollout cepat, semua berbasis data. Ini yang bikin mereka sustain. Di sini VRIO Framework jadi masuk, karena keunggulan competitive nya ga gampang ditiru.
Keempat, ada trade off yang sehat.
Margin sedikit turun, produktivitas toko sempat terdilusi. Wajar lah, ekspansi memang selalu mendahului maturasi.
Kelima, lesson paling penting.
Growth bukan soal cepat, tapi soal rapi. Cashflow jalan, margin dijaga, eksekusi konsisten.
MR. DIY memberikan satu pelajaran simple yaitu strategy yang kuat itu bukan yang rumit, tapi yang bisa diulang dengan disiplin dari ratusan, bahkan ribuan kali. (Wahyu Prihantoro, Doctoral Student at INTI Univ Malaysia)

